cerpen romantis

erpen

 
Langit malam bertabur bintang. Langit malam yang dipenuhi oleh harapan setiap manusia.
“Tujuh…”
Sebuah bintang telah jatuh untuk mengabulkan harapan seseorang di suatu tempat, sebuah bintang telah mati dan tak akan kembali lagi. Meninggalkan sebuah ruang gelap baru di langit.
Aozora menatap bintang jatuh itu penuh harap, merasakan ada sesuatu yang penting yang menghilang begitu saja dari ingatannya. Namun tetap saja sama seperti hari-hari sebelumnya dia masih tak dapat mengingatnya walau hanya sedikit.
“Ternyata hari ini muncul lagi”
“Bintang jatuh itu…” Caca kembali melanjutkan menyadari Aozora tak memahami perkataannya barusan.
“Ah, benar. Buatlah sebuah permohonan”
Caca tersenyum lembut menanggapi ucapan Aozora namun kemudian dia menggeleng pelan dan tertunduk sedih.
“Hei, kau kenapa?” Aozora menatap cemas Caca yang tiba-tiba terlihat begitu sedih. Caca kembali menggeleng dan tersenyum membalas tatapan Aozora.
“Tidak, aku hanya tidak ingin membuat permohonan. Heh… bintang-bintang di langit itu selalu turun untuk mengabulkan harapan manusia. Selalu saja, setiap kali sebuah harapan manusia terkabulkan maka satu bintang di langit itu akan mati. Maka biarlah harapanku tetap tergantung di sana, di langit itu. Biarlah harapanku menghiasai gelapnya langit malam”
“Kalau begitu katakanlah harapanmu padaku agar aku bisa menggantikan bintang itu untuk mengabulkannya”
Caca kembali menggeleng sedih menghilangkan senyum di wajah Aozora.
“Maka kau akan mati menggantikan bintang itu. Aku tak mau itu terjadi”
“Hei, tentu saja itu tak akan terjadi” Aozora menggenggam erat tangan Caca dan tersenyum lembut pada gadis itu. “Percayalah padaku”
“Tidak, tetaplah di sisiku saja. Itu sudah lebih dari cukup bagiku”

]]]

“Apa terasa sakit?” Caca menatap cemas alat suntik yang digenggam oleh Aozora. Menimbang-nimbang kembali tentang apa yang telah ia putuskan barusan.
“Tentu saja tidak, kemarilah. Berikan tanganmu”
“Tapi aku takut. Benarkah tidak terasa sakit?” Caca kembali menatap cemas jarum suntik yang kini semakin dekat lengannya.
Aozora menggenggam erat tangan kanan Caca sementara tangan kanannya sendiri menggenggam alat suntik itu. Aozora kembali menggeleng ke arah Caca.
“Percayalah padaku. Tidak akan ada rasa sakit yang kau rasakan. Setelah ini kau hanya akan merasa bahagia. Percayalah”
Aozora mengikat lengan kiri Caca dengan selembar kain kemudian menyuntik lengan Caca dengan benda yang sejak tadi dia genggam itu.
Secara perlahan cairan asing yang berada di alat suntik itu masuk ke dalam tubuh Caca, sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya tak bersisa sedikitpun.
Entah cairan apa yang telah merasuk ke dalam tubuh Caca, namun tiba-tiba gadis ini mulai kehilangan kesadarannya dan mulai menari-nari dan tertawa tanpa henti. Melihat semua itu Aozora hanya tertawa dan mulai menyuntikkan cairan asing itu ke dalam tubuhnya sendiri.
“Lihatlah, benarkan tidak ada rasa sakit sedikit pun”

]]]

Langit malam bertabur bintang. Langit malam yang dipenuhi harapan setiap manusia.
“Delapan…”
Sebuah bintang telah jatuh untuk mengabulkan harapan seseorang di suatu tempat, sebuah bintang telah mati dan tak akan kembali lagi. Meninggalkan sebuah ruang gelap baru di langit.
Aozora kembali menatap bintang jatuh itu penuh harap, merasakan ada sesuatu yang telah begitu lama mengendap di dalam kepalanya namun setiap kali ia berusaha mengingatnya tak pernah ada apa pun yang kembali muncul di kepala, sesuatu yang sangat penting. Sesuatu itu yang tak pernah berhasil ia ingat sama sekali.
“Lihatlah dia muncul lagi, bintang jatuh itu. Selalu saja tampak sebagai pemandangan yang sangat ironis, benarkan?” Aozora berkata lirih pada Caca yang duduk bersandar di punggungnya. Lama Aozora menunggu reaksi dari gadis itu namun tetap tak ada jawaban darinya.
“Caca… Caca… Caca…!!!”

]]]

“Aozora sampai kapan kau akan seperti ini” Kudo menatap nelangsa Aozora yang sedang duduk di sofa kesayangannya.
Namun sungguh Aozora tak mengerti mengapa semua orang di dalam ruangan ini menatapnya dengan pandangan yang serupa seperti itu. Kudo, Archie bahkan Rain. Mereka semua terlihat cemas dan nelangsa menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Caca, Caca sudah meninggal” Archie berkata lirih tanpa sanggup melihat ekspresi sahabatnya itu.
Aozora menggelengkan keras lalu terbahak mendengarkan lelucon sahabatnya yang sungguh sangat tak masuk akal baginya.
“Kalian tahu, lelucon kalian kali ini sungguh sama sekali tak lucu”
“Ini bukan lelucon. Caca memang telah meninggal. Dia telah meninggal 1 tahun yang lalu” Rain tak mampu lagi menutupi kesedihannya dan terguguk tak mampu lagi menahan semua di dalam hatinya.
“Lalu kau pikir siapa yang selama ini bersamaku. Apa kalian pikir itu hantu?!” Aozora berdiri dari tempatnya duduk, menatap tajam ketiga sahabatnya yang kali ini telah benar-benar keterlaluan dalam bercanda.
“Tidak, tentu saja bukan. Kau tahu, kau hanya berhalusinasi. Setiap kali kau menggunakan obat-obatan itu kau selalu berhalusinasi melihatnya. Sadarlah, dia tidak lagi nyata!” Kudo mendorong keras tubuh Aozora ke dinding berharap Aozora bisa segera menerima semua kenyataan ini.
“Kalian semua benar-benar sudah tidak waras!” Aozora balas mendorong Kudo dengan keras hingga Kudo terjerembab ke lantai. Sekali lagi Aozora menatap tajam ketiga sahabatnya itu kemudian meninggalkan mereka menuju ke satu-satunya tempat yang paling aman baginya, satu-satunya tempat favoritnya bersama Caca, atap rumahnya.

]]]

Aozora duduk meringkuk di salah satu sudut dinding di atap rumahnya. Nafasnya masih memburu dengan cepat akibat pertengkarannya dengan ketiga sahabatnya barusan. Bagaimana mungkin mereka membuat lelucon sekonyol itu, bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa Caca telah meninggal 1 tahun yang lalu sedangkan semalam dia bersama dengan gadis itu. Pikiran-pikiran ini terus menerus bermain-main di dalam kepala Aozora hingga membuatnya tak tahan lagi.
Dengan rusuh Aozora membuang nafasnya kemudian meraih sebuah alat suntik yang berada di dalam kantongnya. Dengan hati-hati dia menyuntikkan cairan asing itu ke dalam tubuhnya. Sedikit demi sedikit cairan asing itu, heroin itu merasuk ke dalam tubuh merenggut sisa-sisa kesadarannya. Sekali lagi, kali ini heroin itu telah kembali membuatnya melihat sosok yang begitu ia cintai itu. Sekali lagi Caca telah menjelma menjadi heroin baginya. Sekali lagi Caca telah menjelma menjadi candu baginya.
Aozora tersenyum lembut melihat Caca yang telah berdiri di hadapannya tersenyum dengan sangat manis.
“Kau tahu, hari ini Kudo, Archie dan Rain benar-benar sangat keterlaluan membuat lelucon”
“Apa yang telah mereka katakan?” Caca berkata lembut kemudian duduk di sebelah Aozora.
“Mereka bilang kau tak lagi nyata. Selama ini aku hanya berhalusinasi membayangkan kehadiranmu. Heh… benar-benar sangat konyol dan bodoh”
Caca menggenggam erat kedua telapak tangan Aozora dan menatapnya dengan lembut.
“Apakah semua ini tidak cukup nyata bagimu?”
Aozora menggeleng keras dan tersenyum membalas tatapan lembut Caca.
“Kaulah satu-satunya hal yang paling nyata bagiku di dunia ini”

]]]

Langit malam yang bertabur bintang. Langit malam yang dipenuhi harapan setiap manusia.
“Sembilan…”
Aozora tersenyum lembut ke arah Caca, menggenggam erat jemari gadis itu seakan tak ingin lagi melepaskan semuanya.
Namun meski rasa bahagia memenuhi relung-relung hatinya tetap saja dia tak mampu menemukan potongan kecil puzzle di dalam kepalanya yang telah lama menghilang. Ada ingatan yang hilang di sana yang tidak pernah ia sadari.
Sebuah bintang jatuh untuk menjawab harapan seseorang di suatu tempat. Sekali lagi sebuah bintang mati dan sebuah harapan seseorang di suatu tempat telah dikabulkan.
Tujuh, delapan, sembilan. Angka-angka yang selalu tanpa sadar keluar  begitu saja dari bibir Aozora. Tanpa sadar dia telah menghitungnya, menghitung ketiadaan Caca dari sisinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s